Angreni’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Warna Risiko Politik Tahun 2009 October 9, 2009

Filed under: Uncategorized — angreni @ 1:09 pm

Menapaki tahun baru 2009, para pengambil keputusan  telah mulai memetakan risiko politik ke depan, cara mitigasinya dan strategi pengendaliannya.  Ini tidak mengherankan, karena risiko politik banyak mendominasi analisis dan strategi para  pengambil keputusan, antara lain pebisnis,  ketika mereka mulai membangun dan mengembangkan usahanya.  Di Negara berkembang seperti Indonesia, situasi politik ditengarai sebagai penghasil risiko yang paling tinggi, sekaligus pembuka peluang yang besar bagi para pemangku kepentingan; bila mereka jeli mengoptimalkan posisinya. Terlebih tahun 2009 sebagai tahun istimewa dengan agenda pesta demokrasinya, yakni pemilihan umum wakil rakyat di berbagai tingkatan yang bakal duduk di kursi lembaga legislatif dan pemilihan presiden secara langsung.  Tidak berlebihan bila masyarakat mengharapkan tercapainya kemakmuran, kesejahteraan dan keadilan yang wajar, melalui suatu pesta demokrasi yang berbiaya tinggi tersebut.  Pernak pernik perpolitikan bagi kacamata bisnis tidak akan lepas dari kepentingannya sebagai pencari peluang dan keuntungan.  Namun risikonya perlu diwaspadai, karena apabila langkah perusahaan tidak tepat, kurang selektif, salah-salah  kerjasama yang dibangun dengan pihak tertentu bisa  mengurangi kepercayaan, meningkatkan risiko hokum dan reputasi  serta   menambah kerugian keuangan.

Persiapan dan langkah pemerintah di bidang ekonomi terkait pula dengan profil risiko politik dari pemerintah.  Yang banyak menyedot perhatian publik antara lain adalah langkah penanggulangan krisis keuangan global.  Krisis ini terbilang mengejutkan, baik ditilik dari singkatnya proses dan tanda-tanda yang menyertainya maupun dari tingkat keparahan dan lamanya pemulihan. Krisis dimulai pada semester pertama tahun 2007, ketika  kasus  subprime mortgage mulai merebak  di Amerika Serikat,  disusul dengan penutupan beberapa  lembaga keuangan besar di Amerika Serikat, dan yang terakhir penipuan berkedok investasi yang melibatkan oleh mantan petinggi perusahaan investasi yang bernama Maddoff,  dengan segala akibatnya. Rentetan peristiwa ekonomi Negara adidaya itu menjadi pemicu risiko politik di Amerika Serikat, tak ayal merembet pula ke Negara kita.  Bagaimana Departemen Keuangan, Bank Indonesia dan Bapepam menyikapinya, telah banyak dicatat dan dipuji sebagai langkah yang tepat.  Namun langkah pemerintah tidak akan berhenti sampai di situ tentunya. Di tahun 2009 pemerintah diharapkan mampu melahirkan kebijakan   yang dapat mengendalikan macro political risk yang timbul akibat resesi global, berkurangnya permintaan produk dan jasa seiring dengan menyempitnya pasar, hilangnya keuntungan, keharusan melakukan efisiensi besar-besaran antara lain dengan melakukan pemutusan hubungan kerja para karyawannya, bahkan sampai dengan penutupan usaha dan perusahaan, bukanlah hal yang mengejutkan lagi.  Undang-Undang kepailitan dan kebangkrutan diprediksi bakal  banyak digunakan secara efektif guna menyeimbangkan hak dan kewajiban antara perusahaan yang telah menyerah dengan para krediturnya.  Demikian pula fengan adanya SKB empat Menteri tentang perburuhan dan hubungan industrial yang sempat mengundang kontroversi, akan lebih banyak disorot  efektivitas penerapannya.

Kompleksitas pengambilan keputusan pemerintah meningkat seiring dengan masalah ikutan yang mungkin terjadi, seperti tingginya angka pengangguran, meningkatnya impor barang secara illegal, penurunan harga komoditas yang selama ini diandalkan sebagai sumber devisa Negara, seperti CPO.  Desakan untuk mengembangkan agroindustri yang menghasilkan produk bernilai tambah tinggi, kemudian menjadi pemikiran yang makin serius. Sebagai layaknya sebuah korporasi, pemerintah juga tidak lepas dari usaha meningkatkan pendapatannya,  antara lain dengan diberlakukannya Sunset Policy di bidang pajak.  Hal ini juga akan merubah pola pembayaran dan jumlah pajak (PPN, PPh dan pajak lainnya) yang harus dibayarkan oleh perusahaan maupun wajib pajak pribadi.  Konsekuensinya kemudian adalah penegakan hukum  yang semakin  gencar, terutama bagi yang belum memenuhi kewajiban pajak secara semestinya.

Pengambilan kebijakan di bidang ekonomi tersebut di atas, erat kaitannya dengan profil risiko politik pemerintah.  Namun bidang lingkungan hidup kini semakin menempati posisi yang penting dan mampu mewarnai risiko politik pula.  Sebagai contoh, kepedulian pemerintah terhadap lingkungan hidup menjadi perhatian Negara lain.  Kita masih ingat ketika kebakaran hutan di Sumatera menjadi sinyal negatif bagi hubungan bilateral dengan Negara tetangga kita.  Data dan informasi tentang lingkungan dan kekayaan hayati secara global lengkap dimiliki oleh para pecinta dan pemerhati lingkungan tingkat global.  Bila perlu mereka menggunakan bargaining power untuk mengoptimalkan pelestarian lingkungan alam.  Pemanasan global, ekolabeling, pencemaran dan pengrusakan lingkungan adalah sebagian dari isu yang harus ditangani pemerintah.  Hal ini kadangkala menjadi dilematis ketika Negara sedang menghadapi defisit anggaran, yang mencoba menutupinya dari eksplorasi penambangan yang terkadang berlebihan, hingga mengorbankan hutan lindung di sekitarnya.  Demikian pula langkah pengendali bencana ekologis (banjir, tanah longsor)  yang kurang optimal dari pemerintah, menyebabkan banyaknya  korban jiwa, harta dan lingkungan.

  Kebijakan, langkah dan komitmen pemerintah untuk terus menangani isu strategis, rawan, dan yang paling prioritas, sangat menentukan gambaran risiko politik ke depan. Pressure group akan selalu memantau aspek yang dianggap paling penting dan mendesak bagi mereka.  Yang perlu diperhatikan adalah cara penyampaiannya,  seyogyanya  tidak perlu menggunakan cara kekerasan, kebrutalan, konflik dan bentrok dengan aparat pemerintah, hanya demi menarik perhatian para pemangku kepentingan.

Itulah sebagian aspek penting yang mewarnai risiko politik dari pemerintah.  Aspek tersebut saling terkait satu sama lain.  Proses pemetaan risiko dimulai dengan pemahaman dan identifikasi risiko politik dan pemicunya, akibat yang ditimbulkan, pengukuran risiko dan pengendalian risiko.  Business intelligent atas kondisi pasar, industri maupun Negara tujuan investasi perusahaan, merupakan alat yang mendukung pemetaan risiko.

Akhirnya besar kecilnya risiko politik dan kerawanan pengendaliannya tergantung dari tiga aspek besar, pertama  intensitas dan magnitude pemicu dari luar, ketidakstabilan situasi politik suatu Negara, dan kualitas dan efektivitas kebijakan publik  yang dihasilkan pemerintah. Kedua, bagaimana hubungan pengendalian organisasi/ perusahaan terhadap penyebab risiko politik yang berasal dari luar perusahaan, dan aspek ketiga adalah kualitas dari proses manajemen risiko politik dalam organisasi/perusahaan.  Tidak berlebihan bila suatu organisasi/perusahaan yang memiliki kapasitas dan kapabilitas prima dalam mengelola risiko politik akan menuai hasilnya dalam kinerjanya yang prima pula, karena bukan saja perusahaan mampu menurunkan kerugian namun mendapatkan pula peluang yang diciptakan dari situasi politik yang terjadi. Kerangka kerja manajemen risiko politik, bercirikan komponen penting yaitu adanya pembagian tugas dan tanggung jawab organisasi yang jelas, delegasi wewenang penanggulangan risiko yang seimbang antara kepraktisan dan unsur kontrol, adanya kebijakan dan prosedur pengendalian yang tepat, sistem pelaporan yang memadai untuk pengambilan keputusan secara tepat, dan monitoring risiko secara rutin.   Karena sifat dari pemicu risiko politik biasanya tidak dapat dikontrol dan hanya dapat dimitigasi oleh perusahaan, padahal   kerugian yang diakibatkan bisa tidak terbatas, maka mengasuransikan risiko politik makro merupakan suatu alternatif yang bisa dipertimbangkan (Gayatri Rawit Angreni).

 

EDITORIAL Majalah Manajemen Risiko ”STABILITAS”

Bulan Desember 2008

(Jakarta, 29 Desember 2008)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s