Angreni’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Segudang Harapan Tertumpu Pada Resi Gudang October 9, 2009

Filed under: Uncategorized — angreni @ 1:10 pm

Undang-Undang No.9 Tahun 2006 tanggal 14 Juli 2006 tentang Sistem Resi Gudang akhirnya efektif berlaku. UU ini mengatur tentang Resi Gudang sebagai bukti kepemilikan atas barang yang disimpan di gudang yang dapat dialihkan, dijadikan jaminan utang, atau digunakan sebagai dokumen penyerahan barang. UU ini dinanti banyak pihak, antara lain petani, pengusaha kecil dan menengah serta kalangan perbankan,  dan tentunya Pemerintah. Terlebih dengan diterbitkannya Peraturan Pemerintah No 36 tanggal 22 Juni 2007 sebagai Juklak UU No 9 tersebut, dan Permen Perdagangan No 26 tahun 2007 tentang barang yang dapat disimpan di gudang dalam penyelenggaraan  Sistem Resi Gudang ini, mengisyaratkan bahwa secara peraturan, sistem Resi Gudang telah memadai sebagai landasan implementasi.

Keberadaan Resi Gudang diharapkan mampu meningkatkan volume perdagangan dan menghemat biaya, karena dalam hal terjadi transaksi perdagangan dan jual beli barang, tidak perlu dilakukan pemeriksaan  maupun  peralihan komoditas secara fisik, melainkan cukup dengan pengalihan kepemilikan Resi Gudang. Di samping itu, Sistem Resi Gudang dapat pula membantu menstabilkan harga pasar karena transaksi penjualan komodititas dapat dilakukan sepanjang tahun tanpa mengenal musim.   Selanjutnya, dengan terdapatnya catatan yang akurat  dari Pengelola Gudang atas  seluruh jumlah dan jenis komoditi yang terdapat dalam Sistem Resi Gudang,  dapat membantu pemerintah dalam mengendalikan harga produk strategis dan menjamin persediaan komoditas secara nasional. Di sektor pembiayaan, keberadaan Resi Gudang dapat meningkatkan efisiensi sistem pembiayaan terutama dalam hal akses pembiayaan ke perbankan maupun lembaga keuangan lainnya.  Akses modal kerja bagi debitur, petani, pengusaha UKM untuk memproduksi barang, melakukan  transaksi perdagangan barang dan mengembangkan usahanya menjadi lebih terbuka. Mereka dapat menjaminkan stok komoditi yang dimilikinya tanpa harus menunggu waktu tertentu, harga tertentu, dan pembuktian barang serta pemindahan barang secara fisik, melainkan cukup dengan menyerahkan Resi Gudang kepada krediturnya.  Sebaliknya, bagi kreditur sistem ini  dapat memberikan kepastian hak jaminan atas Resi Gudang, yang digunakan sebagai bukti kepemilikan atas barang yang diserahkan.  Atas barang-barang yang dijaminkan tersebut, bank atau  kreditur tidak perlu melakukan pemeliharaan maupun pengawasan, karena Pengelola Gudang yang menerbitkan Resi Gudang lah yang akan melakukannya. Bahkan ketika terdapat barang-barang yang mengalami penurunan mutu, Pengelola Gudang akan bertanggung jawab.  Namun sejauh mana pertanggung jawaban para Pengelola Gudang ini bila benar-benar terjadi risiko kerusakan, tentulah harus diatur dalam  juklak teknisnya, sehingga tidak terdapat keragu-raguan dari para pihak yang terlibat.  Sebagai bukti hak jaminan, kreditur wajib mendaftarkan Resi Gudang  jaminan kredit ke Pusat Registrasi Resi Gudang, yaitu PT Kliring Berjangka Indonesia yang akan  melakukan pendaftaran hak jaminan kreditur pemegang hak jaminan tersebut.  Dalam perjalanannya, bila debitur wan prestasi, dengan hak yang dimiliki kreditur, mereka dapat langsung melakukan eksekusi tanpa memerlukan penetapan Pengadilan, sehingga prosesnya lebih sederhana, cepat,  dan dengan biaya yang lebih murah. Kabar baik lainnya adalah, Resi Gudang kini  menjadi nilai agunan yang dapat diperhitungkan sebagai pengurang dalam pembentukan PPAP hingga sebesar 70 persen seperti yang telah diatur dalam Peraturan Bank Indonesia PBI no 9/6/ tahun 2007. Ini berarti bahwa bank dapat menghemat biaya pencadangan risiko kredit. Dengan aspek penunjang antara lain: mitigasi risiko agunan, penghematan PPAP, kecepatan proses eksekusi agunan, pengurangan biaya overhead cost dan  pengendalian risiko kredit yang lebih baik,   pada gilirannya bank dapat menurunkan lending rate yang ditawarkan.  Namun harapan hendaknya jangan berlebihan, karena Resi Gudang hanyalah salah satu aspek dari lima aspek utama pemberian kredit yang dikenal dengan analisis 5C’s of credit (Character, Capacity, Capital, Condition of economy dan Collateral), dalam bank meyakini kelayakan usaha dan tingkat pengembalian kredit yang tinggi. Tentunya kita bisa memahami bila bank harus pula meyakini aspek lainnya.

Akhirnya, kredibilitas infrastruktur lembaga penunjang sistem Resi Gudang merupakan kunci keberhasilan implementasi di lapangan.  Oleh karena itu, kita berharap  agar Lembaga Penunjang  seperti Pengelola Gudang, Pusat Registrasi Resi Gudang, Lembaga Penilai Kesesuaian Standar Barang dan Badan Pengawas Resi Gudang dapat segera membuktikan perannya kepada  para pengguna sistem Resi Gudang, sehingga kepercayaan pelaku pasar semakin besar di waktu-waktu mendatang.  (Gayatri Rawit Angreni).   

 

EDITORIAL  Majalah Manajemen Risiko “STABILITAS”

Bulan Juli 2007.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s