Angreni’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Pentingnya Manajemen Risiko Guna Meningkatkan Daya Saing Perusahaan October 9, 2009

Filed under: Uncategorized — angreni @ 12:43 pm

Risk Management can help you seize opportunity not just avoid danger (Don Borge).

Pada awal proses implementasinya, manajemen risiko seringkali dipersepsikan sebagai penghambat kemajuan, memperlama proses internal perusahaan, dan membebani keuangan perusahaan,  serta hal negatif lainnya.  Namun dengan berjalannya waktu, apalagi setelah menghadapi dan mengalami  krisis moneter serta krisis keuangan global, akhirnya para pelaku ekonomi mengakui bahwa penerapan manajemen risiko di perusahaan telah menjadi suatu kebutuhan. Termasuk dalam meraih peluang bisnis,  bukan semata-mata menghindari bahaya kerugian.

Harapan dan Dorongan Para Pemangku Kepentingan:

Industri perbankan adalah industri padat modal, kompetensi dan padat informasi, industri yang berbasis kepercayaan,  bisnis mengelola risiko.  Dengan demikian sudah sewajarnya bila penerapan manajemen risiko yang tepat (best fit) menjadi  suatu keniscayaan.  Apalagi dengan perannya sebagai sumber dana pembiayaan berbagai sektor industri, perdagangan dan jasa. Membiayai perusahaan yang baru berdiri, bertumbuh sampai berkembang. Bank juga berperan dalam meningkatkan efsisiensi alokasi modal. Dengan sifatnya yang highly leveraged, sudah sewajarnya bila industri perbankan tergolong highly regulated industry

Berbagai harapan para pemangku kepentingan bank, mendorong manajemen bank berusaha memenuhinya.  Yang pertama, regulator bank, yaitu Bank Indonesia,  paling aktif mengatur ketentuan penerapan manajemen risiko berbasis Basel, praktek kehati-hatian  dan prinsip-prinsip good corporate governance (GCG).  Yang kedua, nasabah yang menginginkan pelayanan prima, reputasi yang baik, terpercaya, dengan tetap menawarkan harga yang terbaik.  Ketiga, investor yang menghendaki dana yang ditanamkan di bank menghasilkan penghasilan yang tinggi dengan tingkat risiko yang dapat diterima. Penghasilan dapat berupa capital gain atas kenaikan harga saham, atau deviden saham.  Lebih lanjut, investor menginginkan pengungkapan informasi yang memadai, tidak ada kejutan yang menyebabkan mereka membuat keputusan investasi yang buruk.  Demikian pula harapan para mitra bank (suppliers, provider, agency, dan lain-lain) yang menginginkan bank selalu terpercaya, memiliki reputasi yang baik, menghasilkan kerjasama yang berkualitas dengan posisi win-win relationship. Rating agency pun menginginkan kliennya sebagai perusahaan yang konsisten dengan peraturan dan ketentuan yang berlaku, memiliki sistem dan prosedur yang memadai, serta memenuhi prinsip-prinsip GCG. Pemegang saham berharap banyak agar banknya selalu hidup sepanjang masa sebagai going concerns company, mampu memberikan pertumbuhan profit yang konsisten, menghasilkan devidend stream, dan menciptakan nilai tambah terus menerus. Belum lagi harapan dari manajemen dan karyawan bank yang selalu menginginkan banknya memiliki reputasi yang baik, memenuhi kebutuhan pengembangan diri, kepuasan berkarir dan memberikan penghargaan atas kinerja mereka. 

Untuk memenuhi harapan berbagai pihak tersebut, dibutuhkan suatu tata kelola manajemen risiko yang tepat.  Ibaratnya pakaian yang melekat di badan,  pas dengan ukuran tubuh pemakainya.  Tidak kebesaran dan tidak pula kesempitan. Demikian juga manajemen risiko di bank seyogyanya pas, tidak berlebihan (terlalu ketat) namun  tidak kekurangan (longgar). Semuanya disesuaikan dengan kompleksitas dan profil risiko setiap bank.

Lingkup Manajemen Risiko:

Risiko didefinisikan sebagai “kemungkinan suatu peristiwa terjadi tidak seperti yang diharapkan yang menimbulkan suatu kerugian”.  Sedangkan manajemen risiko adalah “serangkaian prosedur dan metodologi yang digunakan untuk mengidentifikasi, mengukur, memantau, dan mengendalikan risiko yang timbul dari kegiatan usaha bank atau perusahaan”. Tujuan manajemen risiko adalah menjaga agar aktivitas operasional perusahaan tidak menimbulkan kerugian yang melebihi kemampuannya untuk menyerap kerugian, atau membahayakan kelangsungan usahanya.  Terdapat berbagai jenis risiko di bank, yaitu risiko kredit, risiko pasar dan risiko operasional.  Risiko yang bukan termasuk risiko kredit dan pasar, dapat dimasukkan dalam kelompok risiko operasional. 

Menurut Bank Indonesia, jenis risiko penting yang harus dicermati bank-bank ada delapan, yaitu risiko kredit, pasar, likuiditas, operasional, hukum, stratejik, reputasi, dan risiko kepatuhan.  Risiko kredit adalah adalah risiko yang timbul sebagai kegagalan counterparty memenuhi kewajibannya, baik karena tidak mampu atau tidak mau membayar kewajibannya.  Risiko pasar adalah risiko yang timbul karena pergerakan variabel pasar (misalnya sukubunga, nilai tukar) dari portofolio yang dimiliki oleh bank yang dapat merugikan bank tersebut. Risiko likuiditas disebabkan bank tidak mampu memenuhi kewajiban yang telah jatuh waktu.  Risiko hukum adalah risiko yang disebabkan oleh adanya kelemahan aspek yuridis, antara lain: adanya tuntutan hukum, ketiadaan peraturan, perundang-undangan yang mendukung atau kelemahan perikatan seperti tidak dipenuhinya syarat sahnya kontrak dan komitmen organisasi. Risiko stratejik adalah risiko  yang disebabkan penetapan dan pelaksanaan strategi organisasi dan pengambilan keputusan  yang tidak tepat atau karena kurang responsifnya manajemen terhadap perubahan eksternal. Risiko reputasi adalah risiko yang disebabkan adanya publikasi negatif  yang terkait dengan kegiatan dan program kerja  organisasi atau persepsi negatif terhadap organisasi. Risiko operasional adalah risiko yang antara lain disebabkan adanya ketidakcukupan dan atau tidak berfungsinya proses internal, kesalahan manusia, kegagalan sistem, atau adanya masalah eksternal yang mempengaruhi operasional bank    Risiko kepatuhan adalah risiko yang disebabkan karena organisasi  tidak mematuhi atau tidak melaksanakan   peraturan perundang-undangan dan ketentuan lain yang berlaku.  Masing-masing risiko saling terkait dan berhubungan satu sama lain.  Untuk sektor atau industri lain tentu memiliki karakteristik risiko yang dominan yang mungkin berbeda, misalnya risiko politik, risiko sosial, risiko bisnis dan lain-lain. Risiko saling berkaitan satu sama lain.

Kerangka dan Komponen Manajemen Risiko:

Komponen Manajemen Risiko terdiri atas (1) komitmen dan kepemimpinan manajemen puncak (2) proses, (3) struktur organisasi, dan (4) infrastruktur.  Penerapan manajemen risiko dimulai dari komitmen dan kepemimpinan yang kuat dari manajemen puncak (tone of the top),  yang tercermin dalam visi, misi dan value serta budaya perusahaan.  Nada dan gelombang filosofi risiko manajemen puncak tersebut sangat diperlukan sebagai rohnya manajemen risiko di perusahaan.  Tanpa roh yang kuat, manajemen risiko hanyalah sebuah slogan, prosedur, manual kaku yang tergeletak di laci dan lemari perusahaan tanpa suatu makna.

Komitmen  perlu dituangkan dalam risk management objective, risk appetite, dan risk charter perusahaan.  Komitmen setiap aktivitas bisnis dan fungsi perusahaan (antara lain: proses produksi, marketing, human capital, manajemen keuangan dan sistem informasi, pengawasan serta audit), berbasis manajemen risiko,  yang kemudian diintegrasikan dalam manajemen stratejik di tingkat corporate. 

Setiap fungsi perusahaan menjalani proses manajemen risiko,  yang dimulai dengan  identifikasi risiko, pengukuran risiko, pengendalian risiko dan pemantauan risiko.  Tujuan identifikasi risiko adalah memahami jenis risiko pada aktivitas fungsional, sehingga ditemukan indikator-indikator risiko kunci (key risk indicators), dan akhirnya risiko dapat dipetakan dalam suatu profil yang mudah dimengerti: risiko rendah, risiko sedang dan risiko tinggi.

Pengukuran risiko diperlukan agar risiko dapat dikendalikan dan dipantau.  Dalam fungsi perusahaan atau proses bisnis yang baik, pengukuran risiko mampu mengetahui tingkat risiko dan intensitasnya.  Berbagai alat digunakan untuk mengukur risiko, misalnya Credit Risk Rating, Value at Risk, Risk Self Assessment.   

Pengendalian risiko meliputi penentuan tindakan yang diperlukan agar risiko masih di dalam batas yang dapat diterima.  Misalnya dengan penentuan limit suatu transaksi dan portofolio investasi, dengan pencadangan kerugian pada suatu jumlah maksimum tertentu, dan alat pengendali lainnya.

Akhirnya, pemantauan risiko bertujuan untuk memberikan masukan dalam rangka perbaikan aktivitas dan kinerja perusahaan.  Bahkan kalau perlu dilakukan eskalasi isu-isu yang penting dan mendesak di luar hal-hal rutin dan prosedural.  Bentuk pemantauan risiko dapat berupa laporan maupun rekomendasi tindakan. 

Proses manajemen risiko tersebut di atas dituangkan dalam kebijakan dan petunjuk teknis yang gamblang. Proses manajemen risiko bila dilakukan dengan sistematis, konsisten,  dengan bahasa yang sama, akan menghasilkan suatu irama manajemen risiko yang memberikan nilai tambah pada setiap rangkaian proses bisnis. 

Komponen sistem manajemen risiko berikutnya adalah struktur organisasi manajemen risiko,  yang mengatur tentang fungsi, peran, dan tanggung jawab berbagai departemen, komite, jalur putusan dan pelaporan, kompetensi  serta sumberdaya yang diperlukan dalam mendukung manajemen risiko.  Struktur organisasi disusun dengan menganut asas (1) check and balances, (2) segregation of duty dari berbagai kelompok unit kerja: risk taking unit, compliance unit, risk  policy maker, dan strategic busines partner (auditor),  (3) independensi dengan mekanisme four eyes principles, saling mengontrol dan melengkapi  dalam fungsinya sebagai maker,  checker, dan signer  namun dengan semangat bersinergi. Komponen yang terakhir adalah infrastruktur manajemen risiko, yang terdiri atas metodologi, sistem informasi manajemen, struktur limit dan mekanisme kontrol.  

Akhirnya, penerapan manajemen risiko yang berhasil selalu dimulai dengan komimen dan kepemimpinan yang kuat dari manajemen puncak, dipadu dengan SDM yang berkompeten terutama di bidang manajemen risiko, plus didukung dengan budaya sadar risiko di seluruh jajaran perusahaan.  Semoga.

Jakarta, 9 Oktober 2009.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s