Angreni’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Batasan Nilai Penjaminan Simpanan Turun, Kreativitas Bank Meningkat October 9, 2009

Filed under: Manajemen Risiko — angreni @ 1:13 pm

Berdasarkan UU RI No 24 tanggal 22 September 2004, Presiden telah menetapkan Lembaga Penjamin Simpanan  (LPS) sebagai  suatu lembaga independen, yang berfungsi menjamin simpanan nasabah penyimpan, dan turut aktif dalam memelihara stabilitas sistem perbankan sesuai dengan kewenangannya. Setahun kemudian, sejak 22 September 2005 LPS resmi beroperasi.  Sejak itu sampai dengan 21 Maret 2006 seluruh simpanan berapapun besarnya dijamin, kemudian sejak 22 Maret 2006 sampai dengan 21 September 2006 simpanan yang dijamin maksimum Rp 5 milyar, dan sejak 22 September 2006 sampai dengan 21 Maret 2007 maksimum simpanan yang dijamin Rp 1 milyar, dan mulai 22 Maret 2007 maksimum simpanan yang dijamin hanya Rp 100 juta.   Simpanan lebih besar dari Rp 100 juta tetap akan dijamin LPS sampai dengan  Rp 100 juta, sedangkan untuk bagian simpanan selebihnya akan dijamin dari hasil penjualan asset bank saat dilakukan likuidasi.  Jadi pada dasarnya seluruh dana nasabah tetap dijamin, hanya si penjamin dan cara pencairannya saja yang berbeda.   Siapkah perbankan menghadapi penurunan pembatasan simpanan dana nasabah tersebut?. Bagaimana pengaruhnya terhadap strategi mobilisasi dana nasabah besar, terutama dengan memperhatikan profil dan kebiasaan para nasabah, adalah pertanyaan yang wajar bermunculan.

 

Oleh karena pengumuman LPS tentang pemberlakuan pembatasan simpanan yang dijamin telah dikeluarkan jauh-jauh hari, bahkan sejak berdirinya lembaga ini, nampaknya bank-bank telah siap.  Menurut data LPS, dari 92 juta rekening penabung di perbankan, 98 persen  memiliki saldo sampai dengan Rp 100 juta; hanya 2 persen yang memiliki saldo lebih dari Rp 100 juta, yang dalam hal ini tidak 100 persen dijamin oleh LPS.  Jadi yang perlu dicermati adalah segmen penabung yang 2 persen  ini.  Bagi  bank yang telah menerapkan manajemen risiko dengan baik, tepat dan konsisten, akan menghadapinya dengan percaya diri, boleh dikatakan tidak ada pengaruh yang nyata, misalnya kemungkinan terjadinya  pelarian deposan, pengalihan bentuk-bentuk investasi di luar simpanan dan deposito di bank.  Apalagi bila bank telah pula menerapkan prinsip-prinsip GCG,  barangtentu  pengungkapan informasi mengenai   filosofi, prinsip dan praktek manajemen risiko yang baik akan dilaksanakan.  Nasabah dan deposan tinggal membaca bagaimana  tingkat kesehatan  dan  profil risiko bank tersebut dari waktu ke waktu. 

 

Tantangan perbankan kemudian  adalah bagaimana bank meyakinkan nasabahnya  bahwa bank mereka sehat dengan profil risiko dalam batas-batas yang dapat diterima. Dibutuhkan peran marketing, publikasi dan edukasi kepada para nasabahnya agar mereka  paham jargon-jargon indikator kesehatan bank dengan profil risiko yang dapat diterima, sehingga tetap memilih bank tersebut.  Bank-bank demikian malahan  diuntungkan dan menikmati insentif dari pemberlakuan pembatasan ini karena mereka dapat kebanjiran nasabah dari bank lain yang kurang transparan mengelola risiko. Strategi bank dengan fokus pengembangan dana besar dari nasabah individual, sebut saja dengan pelayanan pribadi seperti Priority Banking, Wealth Management, Preferred Circle, dan lain-lain akan semakin marak dengan jenis layanan tambahan berupa edukasi nasabah tentang pemahaman dasar-dasar manajemen risiko bank. Bank dengan layanan pribadi tersebut juga dituntut untuk lebih mengembangkan keberagaman product features, pelayanan yang lebih prima, dan pemberian berbagai jenis hadiah, karena nasabah prima tersebut selain menuntut sukubunga maksimum penjaminan (yang sebelumnya juga sudah dinikmatinya),  kini sebagian dananya tidak dijamin lagi oleh LPS, sehingga perlu semacam kompensasi.

 

Selain penajaman strategi bank, perubahan selektivitas nasabah deposan, kiranya catatan lain juga perlu ditujukan kepada LPS.  Dengan penurunan pembatasan simpanan nasabah yang dijamin, sudah selayaknya LPS meninjau kembali keharusan bank membayar  premi berdasarkan   jumlah total  simpanan bank.  Demikian pula tinggi rendahnya premi asuransi yang dibebankan bank, seyogyanya tidak sama rata, sehingga ada perlakuan adil, ada insentif  bagi bank dengan profil risiko dan tingkat kesehatan yang lebih baik, membayar premi penjaminan lebih murah. Jadi berlaku asas  risk based premium. Bahkan ekstremnya bila bank tersebut telah memiliki investment grade AAA, misalnya maka tidak perlu mengikuti skema penjaminan lagi. Kita pun memahami bila LPS pada tahap-tahap  awal masih membutuhkan  investasi dan biaya yang memadai, guna perkuatan sistem penjamin simpanan.  Namun dengan berjalannya waktu, dengan kualitas pengawasan Bank Indonesia yang lebih baik (risk based supervision, dan risk based audit), dengan penerapan manajemen risiko bank yang best fit, LPS tidak terlalu terekspose risiko likuiditas dan solvabilitas dari bank-bank yang dijaminnya.  Dengan system pemberlakuan premi demikian (risk based premium), biaya yang ditanggung bank untuk mobilisasi dana bisa lebih efisien, yang pada gilirannya bunga pinjaman dapat diturunkan lebih besar lagi, tanpa mengurangi margin yang direncanakan.  Semoga. (Gayatri Rawit Angreni).

EDITORIAL Majalah Manajemen Risiko “STABILITAS”

Jakarta, 6 Maret 2007.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s