Angreni’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Iming-Iming Apalagi Untuk Menerapkan GCG? October 9, 2009

Filed under: Uncategorized — angreni @ 12:58 pm

Good Corporate Governance (GCG) atau prinsip tata kelola perusahaan yang baik bukanlah hal yang baru atau asing bagi para pengelola perusahaan.  Bahkan lembaga nirlaba dan Negara pun membutuhkan GCG yang lebih tepatnya disebut Good Government Governance, agar tetap hidup berkesinambungan (sustainable).  Bahwa bank yang paling getol mendengungkan dan menata dirinya agar berpraktek GCG, tentu sangat dipahami, mengingat bank memiliki fungsi sentral dan strategis dalam keuangan dan perekonomian Negara, antara lain melakukan fungsi intermediasi,  intermediasi ,anamembesarkan perusahaan yang berkembang, memfasilitasi berdirinya perusahaan baru, dan  meningkatkan  efisiensi alokasi modal.  Oleh karena itu bank dapat menghasilkan systemic risk, dan efek domino  bila mengalami kegagalan seperti yang ditunjukkannya  ketika krisis moneter sepuluh tahun yang lalu. Kita akui bahwa salah satu pemicu krisis moneter adalah kurangnya atau tidak diterapkannya GCG di perbankan secara konsisten, bahkan cenderung diabaikan. Selain tentu kurangnya modal dan lemahnya manajemen risiko yang notabene juga bagian dari paying  kerangka kerja GCG. 

 

Dalam berbagai prakarsanya, Bank Indonesia menegaskan  bahwa perbankanlah  yang paling lengkap memiliki dasar peraturan dan segala ketentuan terkait penerapan GCG, dimulai dari komitmennya yang tertuang dalam Undang-Undang Perbankan, kemudian struktur dan mekanisme governance telah  lengkap penuangannya dalam berbagai Peraturan Bank Indonesia (PBI).  Selanjutnya,  melalui PBI GCG yang terbaru, bank diminta pula melaporkan pelaksanaan GCG di bank masing-masing secara komprehensif, sehingga seluruh aspek pengelolaan bank telah tersentuh rambu-rambu GCG.  Yang pada gilirannya, lima prinsip dasar GCG, yaitu Transparency, Accountability, Responsibility, Independency, dan Fairness tercermin  dalam praktek-praktek pengelolaan bank. Cakupan pelaksanaan GCG pun sangat luas, meliputi pengaturan Lembaga Dewan Komisaris dan Direksi,  Komite, Fungsi Kepatuhan, Audit Internal dan Eksternal, Manajemen Risiko, Pihak Terkait dan penyediaan dana besar serta Rencana Strategis Bank. Bahkan kepedulian terhadap lingkungan usaha pun diperhatikan dalam suatu program yang disebut CSR (Corporate Social  Responsibility) yang tepat dan terarah. Pendeknya bila bank benar-benar konsisten dan mematuhi PBI tersebut,  kiranya akan terjaga dari kehancuran.  Sampai di sini kita masih bicara dalam kerangka  regulatory compliance.  Yang tidak kalah penting juga adalah ethical  behavior  yang dipercaya sebagai energi yang menghidupi GCG itu sendiri.  Betapa tidak, ethical   behavior  mencakup suatu nilai-nilai budaya, integritas, dan karakter para pelakunya.

 

Untuk sampai pada  ethical behavior, seringkali kita harus meyakini dulu, apa saja manfaat menerapkan GCG.  Sebagai contoh, investor maupun pemodal akan memberikan harga premium kepada perusahaan yang menerapkan GCG dengan konsisten (well governed company), dibandingkan dengan harga untuk perusahaan dengan kinerja keuangan  yang sama namun praktek GCG lebih buruk. Sehingga perusahaan yang well governed akan mendapatkan harga terbaik dan menjadi lebih efisien dalam bertransaksi.  Jadi GCG bisa berperan sebagai alat yang powerful untuk membangun bisnis yang  excellence. Dengan bisnis yang excellence  tentunya pertumbuhan dan ketahanan perusahaan  dalam jangka panjang akan membuahkan share owner value yang tinggi. Salah satu bentuknya adalah harga dan nilai saham yang membaik, yang sejatinya merupakan  hasil dari jalinan putusan strategis jajaran manajemen puncak yang tepat-governance- terus menerus dan berjangka panjang pula.

Akhirnya,  setelah BI menetapkan berbagai ketentuan dan pedoman GCG, harapan kita tentu pada kelangsungan dari penerapan GCG yang konsisten dan terus menerus. Peran BI dalam memantau dan menindaklanjuti laporan bank-bank atas penerapan GCG, sangatlah penting  Sama pentingnya dengan meluruskan bank yang belum melaksanakan GCG dengan baik. Bank yang terbukti berhasil menerapkan GCG di perusahaannya pun patut  diberikan reward dan insentif dari regulator, yang kemudian Governance Model mereka dipublikasikan  sebagai referensi bank-bank lainnya. Dengan demikian terdapat proses perbaikan penerapan GCG dari waktu ke waktu dan jalinan interaksi kongkrit antara regulator dengan para  pengelola bank, serta terjaganya motivasi untuk menerapkan GCG tiada henti.  Semoga. (Gayatri Rawit Angreni).

 

Editorial Majalah Manajemen Risiko “STABILITAS”

Bulan  Mei 2007

Jakarta 10 Mei 2007.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.